agrasuseno's

deathrockstar:

Sir William Wallace pasti tersenyum bahagia di alam kuburnya. Minggu (4/12), lima serdadu musikal asal tanah Skotlandia yang tergabung dalam unit instrumental adiluhung bernama Mogwai akhirnya berhasil memperluas daerah jajahan dengan menjejakkan kakinya di tanah pasundan. Lebih dari itu, Mogwai sukses menggelar sebuah konser yang besar kemungkinan mampu membuat malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi barisan penggemar fanatik mereka yang telah berjejalan di venue Dago Tea House memasuki  petang hari.

L’alphalpha menjadi musisi pembuka malam itu yang membuat dinginnya Bandung saat itu menjadi semakin menusuk. Sebenarnya kondisi Bandung sedang tidak cukup ideal untuk sebuah konser musik. Hujan deras menghujam kota sejak sore hari hingga menyebabkan beberapa ruas jalanan terjebak macet. Dengan kondisi seperti itu, untuk sekedar mengumpulkan energi demi mencapai venue Dago Tea House-saja, menjadi perkara yang tidak mudah. Beruntung, dengan didukung manajemen tata suara dan pencahayaan yang berjalan mantap, Mogwai tampil sangat prima malam itu sekaligus membayar tuntas segala perjuangan demi mencapai venue.


“White Noise” dari album Hardcore Will Never Die, But You Will (2011) menjadi bom pembuka malam itu. Mengacu pada syal bergaris putih-hijau yang tergantung pada drum-set Martin Bullock malam itu, “White Noise” rasanya cukup heroik untuk dipasang sebagai suara latar jika suatu saat kemenangan Glasgow Celtic atas Internazionale pada final Piala Champions 1967 diangkat ke layar lebar.


Susah untuk menilai pada bagian mana konser mencapai klimaks, karena menurut saya sebagian  besar lagu mereka punya titik klimaks masing-masing sehingga klimaks berlangsung berkali-kali malam itu. Namun jika anda adalah penggemar fanatik mereka sejak album pertama, bisa jadi “Mogwai Fear Satan” menjadi akhir penantian panjang yang indah (sekaligus mendebarkan) buat anda.


“New Paths To Holicon” juga wajib diantisipasi malam itu. Tanpa banyak ucap, kelima personel Mogwai seolah mengingatkan kita bahwa Desember 2012 hanya tinggal setahun lagi, dan bisa jadi hari kiamat telah mengintai di balik leher anda. Sedangkan “Batcat” dinobatkan menjadi akhir dari pertunjukan mendebarkan pemecah telinga berdurasi sekitar dua jam itu.

Mogwai memang hemat bicara. Meski begitu, dengan sedikit senyum dan wajah kemerahan penuh keringat, entah berapa kali Stuart Braithwaite menyampaikan ucapan terimakasih kepada publik Bandung yang hadir malam itu. Jika melihat apa yang mereka suguhkan, dan betapa remuk telinga dan mata saya dibuatnya, seharusnya saya-lah yang berterimakasih kepada mereka. Dan jika memperhatikan wajah-wajah penonton yang begitu sumringah pada akhir pertunjukan, sepertinya tidak cuma saya yang berbendapat demikian.

Ultralite Powered by Tumblr | Designed by:Doinwork