agrasuseno's

deathrockstar:

The Horrors Live in Bandung (Review)


Langit yang terus menurunkan hujan sejak sore, jalanan yang padat merayap, serta bertepatan dengan hari kasih sayang, sepertinya bukanlah kombinasi yang tepat untuk sebuah konser. Selasa (14/2), Dago Tea House gagal terisi penuh meski malam itu The Horrors tampil menggelar konser perdananya di tanah Pasundan pasca lawatannya di St. Jerome’s Laneway Festival Singapore dua hari sebelumnya. Tapi pertunjukan tetap harus berjalan, dan untungnya, tidak mengecewakan.

Lewat pukul 20.30, The Horrors mulai memasuki panggung. Faris Badwan, sang vokalis, sempat melambaikan tangannya menyapa penonton sejenak sebelum bergegas memimpin kuintet ini membuka panggung tanpa banyak basa-basi. ‘Endless Love’ dan ‘I Can See Through You’ yang dicomot dari album kedua mereka, Skying, menjadi nomor pembuka malam itu. Penonton-pun mulai berdesakan maju merapatkan bibir panggung, menyisakan ruang lapang bagi mereka yang ingin menyaksikan konser itu sambil duduk santai di area belakang.

‘Who Can Say’ menjadi nomor ketiga yang dibawakan malam itu. Sayang sekali manajemen tata suara masih belum bekerja maksimal saat itu hingga membuat bebunyian synthesizer yang menjadi penanda khas intro lagu itu tidak terdengar jelas sebagaimana mestinya. Ugh.

Jika anda merindukan The Horrors era album pertama, mungkin anda akan kecewa karena tidak ada satu-pun lagu dari album itu yang dibawakan pada konser malam itu.Entahlah, sepertinya mereka ingin melepaskan karat mentah garage rock yang sempat melekat di awal karir mereka. Deretan lagu dari album Primary Colours menjadi yang dominan dibawakan setelahnya.  

Buat saya, suguhan terpenting konser itu jatuh pada ‘Moving Further Away’ yang dimainkan di penghujung konser. Termasuk pada gimmick saat Badwan beraksi mengangkat stand microphone tinggi-tinggi, mengadu kepala microphone dengan amplifier hingga menimbulkan feedback yang tercampur sempurna dengan raungan kotor yang tercipta dari tangan Joshua Hayward yang menyiksa leher gitar tanpa ampun. Sekumpulan penonton yang menggumpal di area depan tampang berjingkrak girang. Saya menangkap ada klimaks ada disana.

Konser malam itu barangkali adalah salah satu konser musisi asing tersingkat yang pernah saya saksikan. Bagusnya, The Horrors tahu bagaimana caranya menutup sebuah konser dengan baik. Sebuah poin penting yang sempat membuat saya lupa bahwa konser malam itu, sebenarnya berjalan biasa saja.

(Teks: Risyad Tabattala | Foto: Agra Suseno & Claudia Dian)

  1. psychomedusa reblogged this from deathrockstar and added:
    karatmentahgarage
  2. welday reblogged this from deathrockstar
  3. agrasuseno reblogged this from deathrockstar
  4. flegetanis reblogged this from deathrockstar
  5. claudiadian reblogged this from deathrockstar
  6. deathrockstar posted this

Ultralite Powered by Tumblr | Designed by:Doinwork