agrasuseno's

deathrockstar:

INTERCONNECTION #1 – Yogyakarta

Gedung Purnabudaya merah membara! Celetuk seorang temen baik saya di akun twitternya semalam. Memang benar, sorot lampu panggung yang dominan dengan warna merah memberi kesan seperti terjadi kebakaran disana. Pertunjukan INTERCONNECTION #1 semalam sedikit banyak bisa dibilang memberikan sejarah baru untuk kota Yogyakarta, karena beberapa band yang diusung oleh Satria Ramadhan dengan SRM nya dan di fasilitasi oleh Grassroot management ini  baru pertama kalinya bermusik di kota Yogyakarta.

Dengan tata panggung seperti taman kanak-kanak (atau lebih tepatnya seperti pasar malam?) pertunjukan musik ini dibuka oleh penampilan Brilliant at Breakfast, sebuah band indiepop dari Yogyakarta. Cukup unik juga penampilan mereka dengan gelas kopinya, yang sempet membuat seorang photographer terbengong karena menerima gelas berikut kopi panas nya dari si vokalis Eka Jayani. Oke, pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Leonardo. Meskipun diawal sempet terjadi kesalahan teknis, but it’s okay, Leonardo Ringo berhasil berinteraksi dengan baik dengan para penonton, meskipun masih banyak dari penonton yang malu-malu untuk ikut bernyanyi. Answer Sheet kemudian menjadi penampil berikutnya, dengan alat musik ukulele andalan mereka. Penonton Nampak antusias dengan sing along mengiringi penampilan mereka. Tak heran, band ini adalah band dari Yogyakarta dan menjadi nominator ke -2 di SEA Indie’s tahun 2011 kemaren. Penampilan berikutnya adalah bangkutaman. Seperti nya band inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penonton, sama seperti saya. Atmosfer di dalam gedung mendadak berubah, karena penonton yang sebelumnya lebih banyak duduk, mulai beranjak berdiri dan merapat ke bibir stage, moshing dan sing along bak ini adalah pertunjukan musik rock. Mungkin malam itu  bisa dibilang sebagai reuni kecil buat Acum dan teman-teman bangkutaman, setelah sekian lama mereka meninggalkan kota ini dan semalam dapat mengulang memori masa lalu mereka di pertunjukan ini. Bangkutaman selesai, dan sampai juga di penampil terakhir, L’Alphalpha. Penonton sudah banyak yang pulang karena pertunjukan sempat molor kurang lebih 1 jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu itu, dan mereka yang tersisa kembali duduk manis menikmati musik post rock dan band yang juga beranggotakan beberapa cewek dan seorang pemain violin ini.

photo & text : Komang Adhyatma

Seorang Fotografer Wanita Mengabadikan 3 Zaman Melalui Kamera

stluciasound:


DI PENGHUJUNG usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.

Read More

deathrockstar:

AMN Gigs #4 Review

Text: Risyad Tabattala | Photos: Claudia Dian

Selasa (6/12) kemarin, A Zone Music Network Gigs (AMN Gigs) telah menginjak edisi yang ke empat. Tetap bertempat di Hard Rock Cafe Jakarta, malam itu Darryl Wezy, Stars and Rabbit, Bite, The Painkillers, serta Aksiterror tampil sebagai pengisi acara malam itu mengikuti belasan musisi lain yang sudah tampil pada AMN gigs edisi yang terdahulu.

Dari bisik-bisik penonton, saya tau ternyata malam itu adalah penampilan di atas panggung pertama untuk Darryl Wezy. Jadi wajar mereka  tampak masih malu-malu kucing saat menjadi membuka panggung malam itu. Stars and Rabbit menjadi penampil setelahnya. Ini juga kali pertama saya menyaksikan Stars and Rabbit, setelah seminggu sebelumnya menyimak musik mereka via internet. Menjadi kontras malam itu melihat gitaris Adi Widodo yang tampil kalem, sementara sang vokalis Elda Suryani tampil begitu atraktif malam itu. Saya curiga jangan-jangan sang vokalis menenggak pestisida sebelum naik panggung, saking ekspresifnya. Meski begitu, senyawa mereka tetaplah berkualitas juara. Menyenangkan melihat Stars and Rabbit malam itu. Saat mereka turun panggung, saya pikir mereka bisa menjadi sesuatu yang besar dalam beberapa waktu mendatang. Miniatur Janis Joplin versi menggemaskan telah datang.

Bite menjadi aksi yang ketiga malam itu. Juga menyenangkan rasanya melihat mereka kembali untuk pertamakalinya dalam setahun kebelakang. Sayang (entah atau saya melewatkannya saat beberapa saat pergi ke toilet), “Tiba-Tiba Hamil” tidak saya temukan dalam penampilan mereka malam itu. Tapi mereka tetaplah enerjik di atas panggung. Jika kaum adam punya Jimi Multhazam sebagai pengibas panggung paling wahid, kaum hawa sangatlah bisa untuk menunjuk Rebecca sebagai wakil mereka.

Secara visual, The Painkillers punya racun maut dalam sosok vokalis/gitaris mereka. Dengan sedikit pembenahan dalam bernyanyi, gadis ini punya potensi untuk menjadi rock chick yang sesungguhnya sekaligus membimbing tiga personel The Painkillers yang lain untuk tampil lebih garang seperti yang seharusnya. Unit hardcore bertenaga kuda bernama Aksiterror menjadi suguhan penutup malam itu. Riff berat bertempo sedang ala Iommi beberapa kali muncul dalam rentang sekitar empat puluh ditimpali gonggongan sang vokalis yang tiada lelah meski jarum jam telah memasuki tengah malam, cukuplah menjadi sinyal penanda bahwa album perdana mereka yang (sepertinya) akan rilis tahun depan patut untuk diantisipasi.

deathrockstar:

Photos from A Zone Music Network Gigs pt.4 

Awesome night, should thanked the bands and media partners.

DARRYL WEZY
STARS & RABBIT
BITE
the PAINKILLERS
AKSITERROR 

Area, Slanted Mixtapes, Bung!, Gigsplay, Whiteboard Journal, Wasted Rockers, Provoke!, RAW Magazine, Geeks Bible, Sub, Fur & iRockumentary

promoted by

DEATHROCKSTAR + HYPERREALMOVEMENT

with special thanks to Hard Rock Cafe Jakarta. 

deathrockstar:

Sir William Wallace pasti tersenyum bahagia di alam kuburnya. Minggu (4/12), lima serdadu musikal asal tanah Skotlandia yang tergabung dalam unit instrumental adiluhung bernama Mogwai akhirnya berhasil memperluas daerah jajahan dengan menjejakkan kakinya di tanah pasundan. Lebih dari itu, Mogwai sukses menggelar sebuah konser yang besar kemungkinan mampu membuat malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi barisan penggemar fanatik mereka yang telah berjejalan di venue Dago Tea House memasuki  petang hari.

L’alphalpha menjadi musisi pembuka malam itu yang membuat dinginnya Bandung saat itu menjadi semakin menusuk. Sebenarnya kondisi Bandung sedang tidak cukup ideal untuk sebuah konser musik. Hujan deras menghujam kota sejak sore hari hingga menyebabkan beberapa ruas jalanan terjebak macet. Dengan kondisi seperti itu, untuk sekedar mengumpulkan energi demi mencapai venue Dago Tea House-saja, menjadi perkara yang tidak mudah. Beruntung, dengan didukung manajemen tata suara dan pencahayaan yang berjalan mantap, Mogwai tampil sangat prima malam itu sekaligus membayar tuntas segala perjuangan demi mencapai venue.


“White Noise” dari album Hardcore Will Never Die, But You Will (2011) menjadi bom pembuka malam itu. Mengacu pada syal bergaris putih-hijau yang tergantung pada drum-set Martin Bullock malam itu, “White Noise” rasanya cukup heroik untuk dipasang sebagai suara latar jika suatu saat kemenangan Glasgow Celtic atas Internazionale pada final Piala Champions 1967 diangkat ke layar lebar.


Susah untuk menilai pada bagian mana konser mencapai klimaks, karena menurut saya sebagian  besar lagu mereka punya titik klimaks masing-masing sehingga klimaks berlangsung berkali-kali malam itu. Namun jika anda adalah penggemar fanatik mereka sejak album pertama, bisa jadi “Mogwai Fear Satan” menjadi akhir penantian panjang yang indah (sekaligus mendebarkan) buat anda.


“New Paths To Holicon” juga wajib diantisipasi malam itu. Tanpa banyak ucap, kelima personel Mogwai seolah mengingatkan kita bahwa Desember 2012 hanya tinggal setahun lagi, dan bisa jadi hari kiamat telah mengintai di balik leher anda. Sedangkan “Batcat” dinobatkan menjadi akhir dari pertunjukan mendebarkan pemecah telinga berdurasi sekitar dua jam itu.

Mogwai memang hemat bicara. Meski begitu, dengan sedikit senyum dan wajah kemerahan penuh keringat, entah berapa kali Stuart Braithwaite menyampaikan ucapan terimakasih kepada publik Bandung yang hadir malam itu. Jika melihat apa yang mereka suguhkan, dan betapa remuk telinga dan mata saya dibuatnya, seharusnya saya-lah yang berterimakasih kepada mereka. Dan jika memperhatikan wajah-wajah penonton yang begitu sumringah pada akhir pertunjukan, sepertinya tidak cuma saya yang berbendapat demikian.

hollyhocksandtulips:

Marilyn
centuriespast:

Coulon, George David George Washington’s Tomb 1898 Oil on board
The Ogden Museum

centuriespast:

Coulon, George David 
George Washington’s Tomb 
1898 
Oil on board

The Ogden Museum

suicideblonde:

Elle Fanning photographed by Steven Pan 

suicideblonde:

Elle Fanning photographed by Steven Pan 

cordisre:

Fluid Painting Explosion (by markchadwickart)

cordisre:

Fluid Painting Explosion (by markchadwickart)

racello:

Wayne Rooney - creeping up the list of Manchester United’s all time top goal scorers with 152…

WOHOOO

racello:

Wayne Rooney - creeping up the list of Manchester United’s all time top goal scorers with 152…

WOHOOO

(via oldiloveunited)